Sudah lama nggak nulis, bingung apa yang mau ditulis, karena tulisan blog ini pada prinsipnya harus mengulas sesuatu yang orisinil, murni dari hasil pemikiran. Nah, masalahnya pemikiran ini kadang buntu, nggak mau diajak mikir kemana-mana… hehe..

Sekali pingin nulis, materi tulisannya membingungkan… mengendarai motor di tanjakan.
Ketika menghadapi tanjakan yang cukup tinggi dan panjang, ada baiknya kita mengambil ancang-ancang yang cukup. Tapi bagaimana jika kita tidak sempat mengambil ancang-ancang? (tau kan ancang-ancang??)
Bagi saya, kecepatan bukan yang utama di tanjakan yang curam, curam lho ya!, ketika mesin mengharuskan memakai gigi 1, maka patokan saya adalah putaran mesin paling rendah tanpa ngelitik, di Pulsar 220 ada di sekitar 4000 rpm untuk tanjakan semacam Tawangmangu dan Kemuning > 45 derajat.
Bingungnya…..saya merasa cupu ketika ada teman-teman atau pengendara lain yang mendahului saya, tentu saja kecepatan mereka lebih tinggi dan sama dengan gigi 1 juga.
Pakai P220 ini memang saya jadi orang yang lebih sabar, sabar di tanjakan, sabar nunggu teman-teman di jalan lurus… pfff…..
dulu pernah pas pakai P200, perlakuannya amburadul, termasuk waton betot gas di tanjakan curam, alhasil… setelan klep gampang berubah, suara mesin terasa lebih kasar ketika sampai di puncaknya.

Dengan perlakuan sabar di tanjakan ini mesin saya, dan menurut saya tidak berubah performanya bahkan setelan klepnya. Masih halus seperti pas keluar dari dealer. Ya…emang itu motor jam terbangnya nggak terlalu tinggi, beda sama P200 dulu yang tiap hari kepake.

Sekarang dibahas sebabnya ya….
Dengan main betot gas di tanjakan yang curam dan panjang, memang motor melaju lebih cepat, tetapi mesin akan dipaksa berputar lebih tinggi dan menimbulkan panas yang lebih tinggi juga. Perbandingan kecepatan dan aliran udara di luar mesin belum cukup untuk mendinginkan mesin yang masih pakai sirip pendingin udara.
Temperatur komponen akan meningkat sehingga oli-pun sudah tidak maksimal fungsinya sebagai pendingin atau melebihi beban SAE-nya, hal ini menyebabkan pemuaian komponen di dalam mesin tidak normal, contohnya ketika mesin dingin celah klep berubah.
Atau karena suhu oli sudah terlalu tinggi maka oli tidak bisa melumasi komponen dengan sempurna, alhasil gesekan piston dan dinding silinder lebih besar dan menghasilkan banyak gram ketika oli di ganti/tap.

Dengan cara berkendara saya di tanjakan yang khas banget wong Solo yang sabar nan rupawan, mesin tidak diperkosa untuk melakukan putaran tinggi di gigi rendah.
Saya kira suhu mesin akan lebih rendah dibanding dengan perlakuan di atas.
Lagian ngapain kenceng-kenceng di tanjakan, toh nanti di jalan datar kalian kesusul lagi…. P220 gitu loh.. :p

 

Note : Semua gambar diambil dari RR-nya om blackbird di prides-online.com tanpa permisi… hehe😀

Komentar
  1. Om Gasat! mengatakan:

    suaranya juga ga enak om😦

  2. josbus mengatakan:

    masuk akal bro, sama kayak motor ane.sebelumnya g pernah ngelitik meski dipake jauh di jalan datar.tapi pas di tanjakan gak sampai 30 menit udah ngelitik kalo di rpm tinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s