Kamis, 14 juni 2012, dapet undangan untuk menyaksikan gelaran akad nikah seorang teman di desa Banjarejo Rt.1/1 Gabus, Grobogan, Purwodadi.
Kebetulan, karena lama nggak rolling, akhirnya ber-tiga berangkat, dan kebetulan juga semuanya Pulsar 220. Emang kenapa kalau Pulsar yang lain ikut….  Ya gak papa… takut mereka ketinggalan ajah hehehe….
Berangkatlah kita pada pukul 06:30 pagi, dimana jalan masih ramai-ramainya penuh dengan kendaraan baik roda 2 atau roda 4. Ada yang berangkat sekolah, berangkat kerja, nganter anak, pulang dugem, pulang maling, yach… pokoknya itu adalah jam tersibuk di Solo, semua tumplek bleg di jalanan. Makanya saya lebih suka berangkat kantor siang daripada harus bergumul dengan keramaian tersebut.Jalur yang ditempuh pagi itu lewat jalur utara, gemolong, grobogan, kuwu, dan Banjarejo.

Solo Purwodadi via Gemolong. grobogan

Sebelum berangkat mental sudah dipersiapkan untuk menghadapi kondisi jalanan di jalur tersebut yang sudah santer terkenal dengan ke-ambyar-annya, tapi prediksi kami salah, rupanya pemerintah setempat secara bertahap sudah memperbaiki kondisi jalan tersebut dengan melakukan pengecoran secara bertahap di bagian-bagian jalan yang terparah. So, perjalanan kami melewati jalur tersebut relatif lancar, meski yang dihadapi beberapa bagian masih jalan aspal berGELOMBANG. Ya gede, wong gelombangnya gede…hehe…

Sign wisata Bledug Kuwu

Dalam perjalanan ini melewati sebuah objek yang cukup terkenal bernama “Bledug Kuwu”, sebuah kawah lumpur yang terletak di desa Kuwu, kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan. Memang jarang masuk tivi objek ini, tapi nggak susah kok ngebayangin bentuk objeknya, ya hampir mirip-mirip sama lumpur Lapindo di Sidoarjo Jawa Timur, tapi ini lebih kecil, dan tidak menenggelamkan rumah-rumah. Jadi masyarakat sekitarnya tidak perlu membahas ganti rugi.

Macem di lapindo tapi tidak menenggelamkan rumah penduduk

Dan tibalah waktunya untuk memasuki 10 kilometer terakhir menuju TKP, nah…ini yang kami belum siap mental.
Memasuki jalan menuju desa Banjarejo, disambut dengan 100 meter aspal yang halus, kemudian dilanjutkan dengan 50 meter jalan beton, kemudian diteruskan oleh NERAKA sampai di TKP.
Kenapa neraka??
Gini, bayangin untuk membuat sebuah jalan aspal, pertama kali yang harus dibuat adalah meletakkan pondasi jalan berupa batu-batu yang lumayan besar, kemudian kerikil, kemudian barulah aspal dan pasir halus. Itu setahu saya…..
Nah, dijalanan ini yang tersisa adalah batu-batu pondasi yang tentu saja bentuk tatanannya sudah tidak wangun dilihat karena kelindes truk dan mobil sana-sini, dah….pokoknya tidak ada yang bisa dipilih untuk dilewati, mau gak mau harus lewat! Dan berapapun jarak jalan rusak tersebut, saya lebih suka untuk mengkalkulasikan dengan keringat dan energi yang saya keluarkan sebagai 10 KILOMETER!, sumpah…sampai serak nggak bisa ngomong lho….mana panas lagi, di kiri kanan Cuma sawah, nggak ada warung, apalagi Indomart… :shy:
Tidak ada gambar unuk neraka ini….memang di neraka tidak diperbolehkan foto-foto, wong jalan saja susah mosok mau berhenti buat foto.

Ini dia pengantinnya…mas Toni bakso Prawirorejo dan mbak Siska

berangkat terlalu pagi, alhasil….ngantuk

Pulangnya dari TKP kami ambil jalur berbeda, meski agak jauh. Kalau tadi tingkat kerusakan 100%, di perjalanan keluar dari TKP ini mungkin 95 %… beda 5% lumayanlah, tapi tetep saja PARAH.
Itu jalan semenjak pak Karno presiden RI  pertama sudah nggak dibenerin blas kali ya….atau mungkin di daerah tersebut sekarang nggak ada presidennya. Orang Indonesia memang gak bisa bikin jalan.
Di perjalanan pulang ini kami mengambil jalur yang secara tidak sengaja lebih dekat dibanding pas berangkat. Itu menurut google maps. Pergi 101km, pulang 85km. Lumayan kan?

Purwodadi Solo mlipir via Sragen

nemu spot buat foto-foto wallpaper…hehehe

Motor ditata dulu biar asik buat foto…

Kesannya panas…ya emang panas!! ga liat apa itu bukit kapur… :shy:

Gak bisa nebak jalur pulang ini nantinya tembus kemana, bayangan saya Cuma Sragen, tapi gak tau sebelah mana. Ternyata eh ternyata, tembus di kecamatan Tangen. OOOOOO…….. :mlongo: deket ternyata….
kondisi jalan juga bisa dibilang lumayan, 80 dari skala 100 tadi, 0 berarti sempurna.

Pikiran lebih ayem ketika sudah sampai di jalan lingkar luar Sragen,  istirohat dulu di POM Bensin, sambil ngelewatin maghrib.

Selonjoran di POM Sragen

ADA SISEK

Trio pzzo

ini saya pikir pose paling menjijikkan dalam sejarah per-foto-an

Here we go.. sebuah cerita sedikit sombong ketika perjalanan pulang dari Sragen. Entah kenapa jalan Sragen – Solo ini dari jaman ke jaman gak pernah diperbaiki apalagi dilebarkan, padahal volume kendaraan sudah luar biasa dahsyat. Sebenernya siapa sih yang berhak benerin jalan Sragen – Solo ini??
Pemerintah propinsi Jateng atau pemda Sragen, atau pemda Karanganyar? Perut aja digedein…tuh jalan dibenerin!!
Dua jalur jalan yang harus dilewati antara Sragen – Solo ini dari arah berlawanan sering ditemui bis atau truk atau bahkan kendaraan pribadi yang sering nyelonong, nyalip seenak udel meski di arah depan ada kendaraan roda dua.
Dengan 3 biji pzzo, yang lampu jauhnya keren, ketika ada mobil yang nekat ambil jalur kita dijamin periksa ke dokter mata esok paginya. Ya iyalah….. kalok di tembak lampu jauh mereka gak bisa liat apa-apa, dan harus kembali ke barisannya sambil menunggu kita bertiga lewat…hahahaha….

Ini lampu Pulsar 220 yang kontroversial tersebut

Finally…sampai di rumah dengan selamat….

Komentar
  1. ilyas mengatakan:

    huahahahahahahahahahahahahahahaha

  2. nana mengatakan:

    wah kok ya gk pernah apik toh jlnnya solo purwodadio ki??????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s